Ikuti Kami

Hubungi Kami

+62 858-5868-7035

Email Kami

kspmfebunud@gmail.com

Ceritaku di Dunia Investasi

Mahal, susah, dan takut rugi adalah kata-kata yang sering dilontarkan ketikan mendengar istilah investasi, dan persepsi bahwa investasi hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berkantong tebal sering kita dengar di kalangan masyarakat, khususnya dewasa muda. Namun, persepsi tersebut salah besar, dimana berinvestasi di era saat ini bisa dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat dengan mudah dan tidak memerlukan dana yang sangat besar. Di era saat ini, dewasa muda perlu menyadari pentingnya investasi sejak dini dan investasi tidak selalu tentang emas dan property. Menurut Reilly, Brown, dan Leeds (2018), investasi adalah suatu komitmen untuk menanamkan dana pada periode tertentu ke suatu instrument investasi seperti saham, deposito, reksadana, obligasi, dan lain sebagainya yang mana tujuan berinvestasi untuk meningkatkan dan/atau meraih keuntungan di masa depan.

Berbicara mengenai investasi, pandemi COVID-19 telah mengubah dunia dalam berbagai hal, seperti mengubah cara kita bekerja, belajar, hingga bersosialisasi dimana masyarakat diminta untuk menjauhi kerumunan dan menjaga jarak (Tambunan, 2020). Hal ini membuat orang-orang enggan untuk berpergian dan ingin mencoba hal baru, contohnya berinvestasi. Pada saat itulah saya (penulis) mulai tertarik pada dunia investasi, khususnya saham dan saat itu saya masih berusia 17 tahun. Saya mulai mendalami dunia investasi saham dan belajar berbagai istilah investasi melalui beberapa media sosial, serta membaca buku yang mengangkat ilmu dasar saham ––contohnya, buku yang diciptakan oleh Ryan Filbert, dimana beliau menjelaskan hal-hal dasar hingga hal yang sangat kompleks dalam berinvestasi saham. 

Berinvestasi tidaklah sulit seperti apa yang sering kita dengar di kalangan masyarakat Indonesia, saya memulai investasi dengan modal yang terbilang cukup kecil, dimana saya menyisihkan uang saku saya setiap bulannya, dan saham pertama yang saya adalah saham BRI (BBRI) karena saya melihat bahwa emiten tersebut memiliki harga pasar yang terjangkau bagi orang awam yang baru terjun ke saham dan kualitas perusahaan yang terbilang sangat baik. Seiring berjalannya waktu, saya menjadi konsisten untuk mendalami dunia saham dengan terus menggali ilmu dari berbagai sumber dan konsisten berinvestasi setiap bulannya dengan cara menambah lot. Saya ingat betul pada saat itu, saya berinvestasi dengan metode menabung saham atau yang sering kita sebut dengan dollar cost averaging untuk memaksimalkan performa investasi ketika krisis ekonomi 2020 akibat dari pandemi COVID-19. Tidak hanya itu, hari demi hari saya mencoba untuk mempelajari metode lainnya, seperti fundamental analysis, technical analysis dan flow analysis atau bahasa kerennya yang sering digunakan oleh dewasa muda di Indonesian adalah “bandarmology”. 

Seperti yang saya katakana sebelumnya, saya mempelajari investasi dengan fundamental analysis karena saya ingin melihat value dari suatu perusahaan seperti kriteria yang dikemukakan oleh Oracle of Omaha, Warren Buffet –dimana nilai suatu perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan dan manajemen dari suatu emiten. Namun, saya melihat bahwa metode ini kurang cocok bagi saya karena cukup memakan waktu yang lama untuk menganalisa dan menurut saya, tidak semua emiten yang ada di Indonesia memiliki kriteria undervalue sesuai dengan kriteria Buffet (Buffett & Cunningham, 2013). 

Perlahan namun pasti, saya akhirnya menemukan metode yang sesuai dengan gaya investasi saya, yaitu investasi jangka pendek atau yang sering kita dengar dengan istilah trading, dimana trading merupakan investasi jangka pendek dengan menjual dan membeli saham di waktu yang relatif singkat (time frame harian, mingguan dan bulanan). Dalam menguasai metode ini, saya mencoba untuk mempelajari serta mendalami technical analysis dengan melihat pergerakan harga atau chart setiap harinya dan dikombinasikan dengan metode bandarmology untuk melihat aliran dana yang ada pada suatu emiten.

Bagi saya, setelah setahun lebih menggeluti dunia saham, saya lebih menyadari akan pentingnya literasi finansial di era saat ini. Semua metode yang ada pada investasi memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing karena semua metode yang digunakan tergantung dari gaya investasi masing-masing orang. Selain itu, dalam mengembangkan ilmu investasi saham yang saya miliki dan ketahui, saya akhirnya memberanikan diri untuk membagikan ilmu saya melalui platformmedia sosial, TikTok dengan akun ibwidianthara terhitung sejak April 2021.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama mulai untuk meningkatkan literasi finansial di Indonesia dan berinvestasi sejak dini untuk keberlangsungan hidup kita kedepannya, karena dengan rutin berinvestasi dan mempelajari literasi finansial kita bisa membuat uang bekerja untuk kita. Tidak perlu dana yang besar untuk memulai berinvestasi, namun yang terpenting adalah konsisten dalam berinvestasi walaupun dengan modal yang kecil.

 

Referensi penulisan

  • Buffett, W., & Cunningham, L. A. (2013). The Essays of Warren Buffett: Lessons for Corporate America. Amsterdam University Press.
  • Reilly, F. K., Brown, K. C., & Leeds, S. J. (2018). Investment Analysis and Portfolio Management (11th ed.). Cengage Learning.
  • Tambunan, D. (2020). Investasi Saham di Masa Pandemi COVID-19. Widya Cipta: Jurnal Sekretari Dan Manajemen, 4(2), 117–123. Doi: 10.31294/widyacipta.v4i2.8564

 Author: Ida Bagus Widianthara Diaksa, Universitas Udayana

 

Related Articles

Bagikan Sekarang

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Email

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *